Anak Dibawah Umur Diancam 7,5 Penjara

POSO, MERCUSUAR– Empat orang anak dibawah umur yang masih sekolah, Kamis (19/1) menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Poso, atas dugaan kasus pemerkosaan.

Mereka dijadikan terdakwa, atas dugaan kasus pemerkosaan yang menimpa NN (15), yang masih bertalian darah dan satu sekolah, dengan para keempat anak yang menjadi terdakwa.

Para terdakwa yang masih tercatat di SMA Negeri Menui Kepulauan Kabupaten Morowali itu terdiri dari Nd (16), Awl (16), Al (15), dan Wr (15). Proses sidang yang berlangsung tertutup itu dihadiri oleh korban, orang tua korban, orang tua terdakwa serta para terdakwa yang didampingi penasehat hukumnya Jan Bolilanga SH.

Olehnya, majelsi hakim yang terdiri dari Ketua Majelis Ivan Budi Hartanto SH MH dan dua hakim anggota Dwiyantoro SH dan Andi Adha SH. Ke empat anak dibawah umur itu, didakwa melanggar pasal 18 ayat (1) UU nomor 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak yang ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

“Keempatnya didakwa melanggat pasal 18 ayat (1) UU nomor 23 dengan ancaman maksimal 15 tahun,” aku hakim yang ikut menyidangka kasus itu.
Hanya saja kata Dwi, mengingat para terdakwa yang masih dibawah umur, sehingga ancaman hukumannya hanya setengah atau 7,5 tahun penjara. “Karena masih dibawah umur tentu ancamannya setengah atau 7 tahun 5 bulan penjara,” sambung Dwiyantoro yang juga Humas PN Poso itu seraya membenarkan bahwa proses sidang yang dilakukan kemarin merupakan sidang perdana keempat anak tersebut.

Baik korban maupun terdakwa semuanya masih dibawah umur. Setelah melalui tahapan penyidikan di kepolisian dan kejaksaan, kasus ini berkasnya mulai masuk ke Pengadilan Negeri Poso pada awal Januari 2012 lalu.
Sementara kasus yang sempat menghebohkan warga Menui Kepulauan itu terjadi pada November 2011 lalu di rumah korban. Keempat terdakwa dituding telah merampas kehormatan NN yang tak lain adalah sepupu mereka sendiri.
Sementara itu Ketua Pengadilan Negeri Poso Nawawi Pomolango SH yang ditanya soal kehadiran majelis dalam menyidangkan kasus anak dibawah umur mengatakan, bahwa sesuai UU nomor 3 tahun 1997 tentang perlindungan anak, dalam pasal 11 ayat (1) memang disebutkan bahwa untuk kasus anak, sidang harus dipimpin oleh hakim tunggal. “Namun jangan lupa, dalam ayat II pasal tersebut juga disebutkan, untuk hal-hal tertentu Ketua Pengadilan dapat membentuk majelis untuk menyidangkan kasus seperti itu,” paparnya.
Hal hal tertentu yang dimaksud undang undang tersebut lanjut Nawawi adalah jika kasus tersebut ancamannya diatas lima tahun dan pembuktiannya sulit. “Karena kasus anak ini ancamannya diatas lima tahun maka kami dapat membentuk majelis,” urai hakim asal Bolaang Mongondow itu.
Sidang kasus dugaan perkosaan dengan korban anak dibawah umur dan terdakwa juga anak dibawah umur akan digelar kembali pada Kamis pekan depan. “Sidang perdana hari ini, sidang selanjutnya akan digelar pekan depan,” tutup Humas PN Poso Dwiyantoro SH.

Posted on Januari 20, 2012, in Local News. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: