Baharuddin H Tanriwali Kembali Diperiksa

Drs. BAHARUDDIN H. TANRIWALI, M.Si

PALU, MERCUSUAR – Hari ini, Rabu (25/1), penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Palu akan menghadirkan kembali Drs. Baharuddin H. Tanriwali, MSi untuk diperiksa terkait dugaan korupsi dum aset pemerintah daerah (Pemda) Sulteng, berupa sebidang tanah seluas 1.188 meter persegi di Jalan Basuki Rahmat, Kecamatan Palu Selatan.

Dalam kasus itu, Baharuddin diperiksa sebagai saksi dalam kapasitas mantan Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulteng.

“Ini merupakan panggilan pemeriksaan kedua bagi Baharuddin, setelah panggilan pertama bersangkutan tidak hadir karena tugas keluar daerah,” ujar Kepala Kejaksaan (Kajari) Palu, M Adam melalui Kepala Seksi Pidsus, Alham pada wartawan, Selasa (24/1).

Apabila panggilan kedua yang bersangkutan juga tidak hadir, maka penyidik akan melayangkan panggilan ke tiga. Hanya saja, Alham masih enggan berspekulasi jika pada panggilan berikutnya, yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan penyidik. “Pastinya, terkait panggilan kedua ini, belum ada konfirmasi apakah Baharuddin akan hadir atau tidak. Kita tunggu saja nanti,” katanya.

Selain Baharuddin, lanjut Alham, pihaknya akan memeriksa tiga saksi lainnya. Mereka terdiri dari, Max Ronald Tumonggor selaku notaris pembuat akta jual beli saat penyerahan tanah dari Ferdinan ke Yuliansyah, Supardin Lero selaku lurah tempat tanah itu berada dan Muh Rizal staf Badan Pertanahan nasional (BPN) Palu.

“Mereka merupakan saksi-saksi yang baru kali ini menjalani pemeriksaan, baik ditahap penyelidikan maupun penyidikan,” tuturnya.

TERIMA HONOR
Sementara itu, dua saksi yang menjalani pemeriksaan kemarin (24/1), masih berasal dari Biro Perlengkapan Umum (Perlum) Sulteng yakni, Kasubbag Tata Usaha Keuangan, Yusuf Epang dan pembantu bendahara, Zenab Arlindawati. Kedua saksi juga masuk dalam tim penilai dan penaksir.
Keterangan ke duanya didepan penyidik sama dengan saksi-saksi lain yang masuk tim penaksir dan penilai, yakni tim tersebut tidak pernah bekerja.

Hanya saja, Zenab Arlindawati menambahkan tim penaksir dan penilai berjumlah 31 orang dengan total honor sekira Rp 100 juta. Namun dari 31 orang itu, ada sekitar tiga orang yang belum dibayar honornya.
“Honor tim penaksir dan penilai dibayar dua kali,” tutup Alham yang mengaku tak ingat dengan nama tiga tim penaksir dan penilai yang belum dibayar honornya itu.

Dalam Kasus itu, penyidik telah menetapkan dua orang tersangka, yakni mantan Kepala Biro Sulteng, Yuliansyah dan penerima dum Ferdinan. Keduanya ditetapkan tersangka berdasarkan surat perintah penyidikan nomor print – 08/R.2.10/Fd.1/01/2012 atas nama Yuliansyah dan nomor print – 07/R.2.10/Fd.1/01/2012 untuk Ferdinan. Kedua surat yang tertanggal 5 Januari 2012 itu, ditandatangani Kajari Palu, M Adam.

Posted on Januari 25, 2012, in Local News. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: