Doa Sang Ayah untuk Angelina Sondakh

Prof Lucky Sondakh (kiri), bersama Rektor Unsrat Donal Rumokoy (tengah) dan Gubernur Sulut SH Sarundajang (foto: FB Lucky Sondakh)

OLEH : Jackson Kumaat, Pengusaha Muda dan Sekjen DPP Partai Karya Perjuangan

NASIB Anggota DPR dari Partai Demokrat Angelina Sondakh, masih di ujung tanduk. Status tersangka yang disandangnya dalam kasus dugaan korupsi Wisma Atlit, tak saja berpengaruh secara psikologis bagi anak-anaknya hasil pernikahan dengan almarhum Adji Massaid, tapi juga berdampak pada keluarganya di Manado Sulawesi Utara.

Bagi warga Sulawesi Utara, nama Angie (panggilan akrab Angelina Sondakh) dikenal cukup familiar. Sejak Angie menjadi Putri Indonesia 2001 asal Sulut, berhasil mengubah paradigma masyarakat, bahwa tak semua gadis Manado tak hanya berbekal kecantikan, tapi juga kepandaian (inner beauty).

Setelah masuk Partai Demokrat pada 2004 dan pendukung Pak Beye, Angie kembali terpilih menjadi anggota DPR kedua kali pada 2009. Angie kembali menjadi buah bibir, ketika ia kedapatan berpacaran dengan Adjie Massaid, artis yang menduda. Mereka akhirnya menikah, setelah Angie menjadi mualaf atau pindah agama menjadi Islam. Padahal, keluarga besar Angie adalah penganut Kristen dari gereja GMIM.

Lantas, bagaimana reaksi keluarga setelah Angie menjadi tersangka kasus korupsi?

Mungkin banyak menyangka termasuk saya, bahwa keluarga Sondakh di Manado akan membiarkan Angie sendirian. Ternyata tidak. Sang Ayah, Prof Lucky Sondakh, justru pasang badan membela anaknya. Bahkan, Mantan Rektor Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini, mendoakan Angie. Tak ada istilah ‘anak durhaka’ bagi mereka.

Sedikit latar belakang untuk Prof Lucky Sondakh yang saya kenal, beliau adalah salah satu guru besar di Fakultas Peternakan Unsrat yang dikenal kritis. Di era Reformasi’98, tak banyak dosen Unsrat yang ‘berani’ mendukung perubahan. Mungkin dengan latar belakang ilmu ekonomi dan gelar Ph.D dari University of New England Australia, membuatnya tak takut menyuarakan reformasi.

Sebagai orang yang pernah aktif di Sinode GMIM (gereja terbesar di Sulut), Prof Lucky Sondakh dikenal sebagai penganut Kristen yang taat. Di saat dirinya ‘diserang’ media infotainment menjelang pernikahan anaknya secara Islam, ia pun tetap bersikukuh bahwa Angie adalah seorang anak yang baik.

”Mungkin ini salib yang harus ditanggung anak kami Angie, dan kami tetap mendoakan supaya dia diberikan kemampuan menghadapi semua ini. Kami juga selalu mendoakan Anda sekalian, termasuk yang menghina kami. Saya pribadi mengucapkan terima kasih baik kepada yang mendukung kami maupun yang mencerca, ” kata dia kepada beritamanado.com.

Jika ada yang bertanya, kenapa Prof Lucky tak ‘mengutuk’ anaknya, menurut saya itu karena ajaran cinta kasih yang tertanam di dirinya. Ia tetap mencintai keluarganya meskipun kini telah mengambil jalan berbeda. Sang Ayah itu pun tetap mendukung anaknya, meski saat ini terjatuh.

Dan terakhir, saya ingin mengutip kutipan favorit di Facebook Prof Lucky, ‘Love ends when you stop caring. Life ends (spiritualy) when you stop dreaming’.

Posted on Februari 24, 2012, in Berita Daerah, National News. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: