5 ‘Tradisi’ yang Terkikis Akibat Facebook

Suka tidak suka Facebook telah mengubah pola hidup umat manusia. Tak heran beberapa kebiasaan pun hilang seiring dengan pertumbuhan pengguna situs jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg itu.

Nah, berikut 5 ‘tradisi’ yang hilang dengan kehadiran Facebook dilansir dari Mashable, Sabtu (26/1/2013).

BACA SELENGKAPNYA …

Stadion-Stadion Penyelenggara Piala Dunia Brasil 2014

BACA SELENGKAPNYA ...

BACA SELENGKAPNYA …

Ayah di China Curi Uang Donasi Pengobatan Anaknya

Foto yang diunggah Ling Bao di internet untuk mencari donasi bagi anaknya, Shuyu, yang mengidap leukimia

ZOUZHOU, CINA – Seorang ayah di kota Zhuzhou, provinsi Hunan, China menjadi kecaman seantero negeri karena mencuri uang donasi untuk pengobatan anaknya. Uang itu dipakai membeli rumah. Padahal sebelumnya, dia memohon para dermawan untuk membiayai operasi leukimia anaknya.

Ling Bao, 28, adalah ayah Shuyu, bocah dua tahun yang didiagnosis menderita leukimia dan harus segera menjalani transplantasi sumsum tulang. Jika operasi tidak segera dilakukan, Shuyu diprediksi tidak akan selamat.

Berasal dari keluarga miskin, Ling lantas mengajukan permohonan donasi melalui Xinlang, media sosial serupa Twitter di China, dan mengirim surat ke ribuan orang dermawan di China. Dengan wajah memelas, Ling menampilkan fotonya dan anaknya yang sedang menangis di rumah sakit.

Permintaan Ling itu berhasil memancing simpati ribuan orang di China. Akhirnya hanya dalam waktu kurang dari setahun, Ling berhasil mengumpulkan donasi sekitar 256 ribu yuan atau setara Rp397 juta.

Namun Ling telah melanggar janjinya. Dia tidak menggunakan uang itu untuk menolong Shuyu, malahan mencurinya untuk keperluan pribadi. Menurut Daily Mail, Selasa 22 Januari 2013, lebih dari Rp150 juta dari donasi malah digunakannya untuk membeli apartemen 10 kamar.

“Saya berharap uang saya digunakan untuk transplantasi tulang sumsum bocah itu. Bukan membangun istana bapaknya,” kata seorang donatur yang marah.

Selain itu, warga desa tempatnya tinggal mengatakan bahwa Ling dan keluarganya sekarang mengenakan baju baru dan membeli barang-barang yang sebelumnya mereka tidak mampu mereka beli. “Sebelumnya, keluarga itu tinggal di gubuk sederhana, sebagiannya rubuh tahun lalu akibat cuaca buruk,” kata seorang warga desa. Warga desa marah, sebab mereka juga ikut menyumbang untuk pengobatan Shuyu. Padahal mereka sendiri dari kalangan orang tidak mampu. Dengan entengnya, Ling menjawab pertanyaan para donatur: “Anak saya memang sudah sakit, saya bisa apa?”

Sementara itu, tim dokter yang menangani Shuyu mengatakan bahwa mereka telah menemukan donor sumsum tulang yang cocok dan siap untuk transplantasi. Menurut dokter, peluang hidup Shuyu mencapai 80-90 persen jika operasi segera dilakukan.

SUMBER

Menteri Agama: Lady Gaga seperti Pemuja Setan

JAKARTA, KOMPAS.com — Kendati mengaku tak pernah menyaksikan videoklip penyanyi Lady Gaga, Menteri Agama Suryadharma Ali, yang juga Ketua Harian Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi, memberikan apresiasi kepada Polda Metro Jaya yang tidak memberikan rekomendasi izin konser kepada promotor Big Daddy Entertainment.

Alasan kedua, dalam konsernya, Lady Gaga terlihat seperti memuja setan. Lirik-liriknya juga seperti antiagama
— Suryadharma Ali, Menteri Agama

Kementerian Agama mendukung langkah Polda Metro Jaya sebab Lady Gaga dipandang memberikan pengaruh negatif kepada masyarakat Indonesia. Ada tiga alasan Suryadharma, yang juga politisi Partai Persatuan Pembangunan, mendukung rekomendasi Polri.

Pertama, Suryadharma mengatakan, Lady Gaga dapat merusak akhlak bangsa. Kostum konser Lady Gaga selalu memperlihatkan bagian-bagian tubuh tertentu. “Alasan kedua, dalam konsernya, Lady Gaga terlihat seperti memuja setan. Lirik-liriknya juga seperti antiagama,” kata Suryadharma ketika menghubungi Kompas.com, Kamis (17/5/2012).

Selain itu, Suryadharma juga mengatakan, ada desakan dari kelompok-kelompok tertentu yang menentang kehadiran Lady Gaga. Suryadharma berharap, langkah Polri yang tidak memberikan rekomendasi izin kepada promotor dapat menjadi barometer di daerah lainnya.

Tak langgar kebebasan berekspresi

Pada kesempatan ini, Suryadharma juga menegaskan, sikap Polri tak merusak kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi di Indonesia tidak bersifat absolut. Ada aturan yang tak boleh dilanggar terkait kebebasan berekspresi.

“Justru pelarangan ini sebagai tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga moral dan akhlak bangsa. Pengaruh asing yang negatif jangan dibawa ke Indonesia,” ucap Suryadharma.

Terkait argumen sejumlah pihak bahwa apa yang dilakukan Lady Gaga tak lebih dari seni, Suryadharma tak menyangkalnya. Agama pun tak melarang kesenian. “Tapi harus seni yang bermartabat, seni yang memiliki kandungan edukasi, keindahan. Bukan seni yang merusak moral,” katanya.

Wajah Staf Khusus Presiden Pun Diserang Tomcat

Heru Lelono. Staf Khusus Presiden.

JAKARTA, KOMPAS.com — Serangga tomcat tidak pandang bulu. Pejabat negara sekelas Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Informasi Heru Lelono juga jadi korban serangan tomcat.

“Saya beberapa bulan yang lalu pernah mengalami hal tersebut di bagian muka saya,” kata Heru, Jumat (23/3/2012).

Salah satu orang dekat SBY ini menegaskan, bekas gigitan tomcat tidak masalah. “Jadi saya rasa masyarakat tidak perlu panik berlebihan,” kata Heru.

Ia mengatakan, dokter pribadi Presiden yakni dr Robert memberikan pengobatan kepada dirinya.

“Dalam waktu sekitar tiga hari saya sudah sembuh kembali,” katanya.

Heru Lelono memperkirakan serangga tersebut meracuninya saat ia berada di luar Jakarta karena saat itu ia baru datang dari luar kota.

Serangan kumbang tomcat pertama kali dilaporkan di Surabaya. Namun, kini serangan tomcat juga mulai dilaporkan dari daerah lain, termasuk Bekasi, Jawa Barat.

Tomcat mengeluarkan cairan beracun dari tubuhnya yang bisa menyebabkan dermatitis berupa kulit melepuh, gatal, dan panas.

Merebaknya serangan tomcat diperkirakan karena ledakan populasi akibat perubahan cuaca dan ketersediaan makanan yang cukup untuk berkembang biak.

Tomcat yang secara alami merupakan predator wereng menyukai cahaya dan tempat yang lembab. Tomcat diduga merambah permukiman karena dekat dengan habitatnya atau kelimpahan makanan di habitat aslinya berkurang.

Asma Assad: Sayalah Diktator Sesungguhnya

Asma Assad dan Suaminya, Bashar al-Assad

DAMASKUS, KOMPAS.com — Asma al-Assad, perempuan kelahiran Inggris yang kini istri Presiden Suriah, mengatakan kepada seorang temannya bahwa dialah “diktator yang sesungguhnya” dalam keluarga itu. Pernyataan itu, yang menunjukkan bahwa Asma punya posisi terhormat di lingkaran dalam rezim Suriah, diperoleh dari sejumlah e-mailyang bocor kepada para aktivis oposisi.

Meski sebelum pemberontakan merebak ia menyatakan punya ambisi untuk meliberasi Suriah, Asma Assad (36) tidak memperlihatkan adanya perasaan waswas terkait aksi kekerasan berdarah rezim suaminya, yang telah menyebabkan korban tewas sekitar 8.000 orang. Korespondensinya dengan Bashar al-Assad, para pembantu suaminya, teman-teman dan keluarganya menggambarkan bahwa perempuan itu sangat mendukung suaminya. Dalam sebuah e-mail ke seorang teman keluarga pada 10 Januari, ia memuji pidato yang disampaikan suaminya prihal menjadi “kuat, tidak ada lagi main-main” kepada rakyat negara itu. Dalam sebuah e-mail yang lain, ia mengeluh bahwa ABC News tidak mengedit secara baik wawancara dengan suaminya.

Pada 17 Januari, ia menyebarkan sebuah e-mail yang berisi lelucon tentang warga Homs, tak lama sebelum sebuah serangan rezim suaminya yang menewaskan ratusan orang. Rakyat kota Homs telah lama menjadi sasaran cemoohan warga Suriah lainnya. Asma menerima sebuah e-mail dari suaminya dengan judul topik, “Mahasiswa yang Meraih Nilai 0% Saat Ujian”. E-mail itu berisi salah satu daftar lelucon yang beredar luas di internet dalam bentuk pertanyaan dengan jawaban konyol. Pertanyaan pertama adalah “Dalam pertempuran manakah Napoleon tewas? – Dalam pertempurannya yang terakhir”.

Hari berikutnya Asma meneruskan e-mail itu kepada ayah dan dua anggota keluarganya yang lainnya, tetapi judul topiknya diubah menjadi “Seorang Mahasiswa Homs yang Sangat Cerdas!”

Komentar soal “diktator” Asma dibuat dalam nada gurauan saat berkiriman e-mail dengan seorang teman soal seberapa banyak pasangan biasanya saling memberi perhatian. “Dalam hal mendengarkan, sayalah diktator yang sesungguhnya, ia (Bashar) tidak punya pilihan …,” tulisnya pada 14 Desember. Pemakaian kata “diktator” dalam rujukan terhadap suaminya menunjukkan bahwa Asma tahu bagaimana orang lain menganggap suaminya.

Asma Assad berasal dari lingkungan nyaman dunia kelas menengah Inggris, tempat ia dibesarkan sebagai putri seorang ahli jantung di Acton, London. Ibu tiga anak itu, yang dulu kuliah di universitas di London, berbincang penuh kasih dengan keluarganya, menerima penawaran belanja dari John Lewis, dan berspekulasi tentang peluang liburan ke luar negeri bersama teman-temannya. Namun, sanksi-sanksi internasional memaksa dia untuk berbelanja secara online dengan menggunakan nama samaran dan meminta sejumlah teman untuk mengumpulkan perhiasan dari Paris. Untuk menerima pengiriman furnitur, ia harus menemukan sebuah perusahaan pelayaran yang bersahabat di Dubai.

Hanya sekilas dia tampak menunjukkan ketegangan. Pada 3 Februari, dia menulis ke seorang teman, “Juga bertemu dengan banyak keluarga korban yang rasanya sulit, tetapi juga memberi saya kekuatan (atau membuat saya jadi lebih kuat).”

Akun-akun e-mail itu dihentikan penggunaannya beberapa hari kemudian setelah keluarga Assad sadar bahwa akun-akun tersebut telah diekspos.

Asma, seorang bankir investasi di London sebelum menikah dan beremigrasi pada usia 25 tahun, telah bekerja untuk menjaga hubungan yang terus menciut rezim itu dengan dunia luar. Dia mengupayakan apa yang dia sebut sebuah “aliansi strategis” dengan MTN, raksasa telekomunikasi Pan-Afrika, dan Syrian Development Trust,  yang bahkan sebelum krisis sudah dinilai oleh para pengamat sebagai sebuah lapisan permukaan yang tipis dari reformasi sosial rezim tersebut.

Rangkaian sebanyak 3.000 e-mail itu berasal dari akun-akun pribadi Presiden Bashar dan Asma dan telah diberikan oleh para aktivis oposisi kepada The Daily Telegraph dan sejumlah media lainnya. Meskipun menggunakan nama samaran, identitas Bashar dan Asma tidak diragukan mengingat siapa penerima dan topik e-mail-e-mail tersebut.

Bashar mengasihi istrinya, meskipun inbox-nya e-mail-nya menunjukkan bahwa dia punya hubungan khusus dengan dua pembantu tepercayanya yang merupakan perempuan muda Suriah yang berbasis di Amerika Serikat. Seorang perempuan yang kelihatan berusia 20-an mengirim sebuah foto dirinya dalam pose sangat provokatif. Perempuan itu berdiri menghadap dinding dengan hanya mengenakanlingerie.

Asma tampaknya menyadari bahwa masa pemerintahan empat dekade keluarga Assad bisa segera berakhir. “Jika bersama kita kuat, kita akan mengatasi hal ini bersama …. Saya mencintaimu,”  tulis Asma kepada suaminya pada 28 Desember.

Biografi Sahabat Baginda Rasulullah SAW: Abu Dzar Al Ghifari

disadur dari : majlisdzikrullahpekojan.org

Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah bin Sakan, tetapi dia dikenal dengan sebutan Abu Dzar al-Ghiffari. Dia adalah sahabat Rasulullah yang berasal dari suku ghiffar dan termasuk golongan orang yang pertama masuk Islam. Sebelum menjadi seorang muslim, Abu Dzar dikenal sebagai seorang perampok yang suka merampok para kabilah yang pedagang yang melewati padang pasir. Suku Ghiffar memang sudah dikenal sebagai binatang buas malam dan hantu kegelapan. Jika bertemu dengan mereka, jarang sekali orang yang selamat dari perampokan.

Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang paling tidak disukai oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman, seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendiriannya.

Ia mendapat hidayat Allah Swt dan memeluk Islam di kala Rasulullah Saw menyebarkan dakwah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Quraisy. Sekembalinya ke daerah pemukimannya dari Mekah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di Islamkan.

Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasulullah Saw sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani Aslam, Nabi Muhammad Saw dengan bangga mengucapkan: “Ghifar…, Allah telah mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!”

Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan kebenaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasulullah Saw sebagai “cahaya terang benderang.”

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain. Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah Swt dan Rasul-Nya, Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasulullah Saw tentang tindakan apa kira-kira yang akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengangkangi harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: “Demi Allah, yang mengutusmu membawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!”

Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin yang bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: “Kutunjukkan cara yang lebih baik dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiamat kelak!” Rasulullah Saw mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasulullah Saw, Abu Dzar tetap berpegang teguh pada nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan oleh Rasulullah Saw belum muncul. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, berkat ketegasan dan keketatannya dalam bertindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang dikalangan masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, penyakit yang membahayakan kesentosaan umat itu bermunculan laksana cendawan dimusim hujan. Khalifah Utsman bin Affan sendiri tidak berdaya menanggulanginya. Nampaknya karena usia Khalifah Utsman. sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasulullah Saw yang hidup serba kekurangan, hanya karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa potong roti. Padahal para penguasa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin bertambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum muslimin banyak disalah-gunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para sahabat Nabi Muhammad Saw dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasulullah Saw, jangan menghunus pedang. Berjuang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngiang terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesarungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang memperingatkan para penguasa dan orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka kembali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di Syam, ia selalu memperingatkan orang: “Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih pada hari kiamat.

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umumnya terdiri dari fakir miskin dan orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegakkannya kembali prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam, memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk membendung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: “Aku sungguh heran melihat orang yang di rumahnya tidak mempunyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar menghunus pedang!”

Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajaran-ajaran kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasulullah saw,”Semua manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…,” “Tak ada manusia yang lebih afdhal selain yang lebih besar taqwanya…”, “Penguasa adalah abdi masyarakat,” dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang bergelimang dalam kehidupan mewah sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar, tetapi lidah dan tangan mereka bergerak diluar bisikan hati nurani. Abu Dzar dimusuhi dan kepadanya dilancarkan berbagai tuduhan. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di Mekah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa rasa takut sedikit pun ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiyyah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar berkata: “Bukankah kalian itu yang oleh Al-Quran disebut sebagai penumpuk emas dan perak, dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiamat dengan api neraka?!”

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muawiyah bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan ditangan ia dapat berbuat apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera ditulis sepucuk surat kepada Khalifah Utsman di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan tentang Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil salah satu tindakan. Berikan kekayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pembuangan.

Khalifah Utsman melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada Abu Dzar diajukan dua pilihan: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu, Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Khalifah Utsman masih terus menghimbau Abu Dzar. Dikemukakannya: “Tinggal sajalah disampingku!”

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar berjuang semata-mata untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya menghendaki supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh Rasulullah Saw, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar.

Memang justru itulah yang sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman, sebab ia harus memotong urat nadi para pembantu dan para penguasa bawahannya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. Akhirnya, atas desakan dan tekanan para pembantu dan para penguasa Bani Umayyah, Khalifah Utsman mengambil keputusan:

Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau mengantarkannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sedikitpun ia tidak ragu, bahwa Allah Swt selalu bersama dia. Kapan saja dan dimana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman ia berkata: “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib yang tinggi atau diatas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan seandainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku.”

Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhaan Al Khalik. Ia seorang pahlawan yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad Saw. Ia seorang zahid yang penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan melanda umat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sangat mengejutkan kaum muslimin, khususnya para sahabat Nabi Muhammad Saw. Imam Ali sangat tertusuk perasaannya. Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam kepada Abu Dzar.

Kisah Dibuangnya Abu Dzar

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam bukunya As Saqifah, berdasarkan riwayat yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan Khalifah Utsman di atas:

Khalifah Utsman memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan mengantarnya sampai ditengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali, Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali, yaitu Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya, Sayyidina Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: “Hai Hasan, apakah engkau tidak mengerti bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti, ketahuilah sekarang!”

Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali tak dapat menahan letupan emosinya. Sambil membentak ia mencambuk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: “Pergilah engkau dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka.”

Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-ronta kesakitan. Marwan sangat marah, tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali. Cepat-cepat Marwan kembali menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali. Khalifah Utsman meluap karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali dan anggota-anggota keluarganya.

Tindakan Imam Ali terhadap Marwan itu ternyata mendorong orang lain berani mendekati Abu Dzar guna mengucapkan selamat jalan. Diantara mereka itu terdapat seorang bernama Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib. Dzakwan dikemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut:

Aku ingat benar apa yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Hai Abu Dzar engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan membuangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup rapat bagi hamba Allah, tetapi hamba itu kemudian penuh takwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang menjengkelkan hatimu selain kebatilan!”

Atas dorongan Imam Ali, Aqil berkata kepada Abu Dzar: “Hai Abu Dzar, apa lagi yang hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertakwa sajalah sepenuhnya kepada Allah, sebab takwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati. Ketahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharapkan maaf dari orang lain sama artinya dengan putus asa. Oleh karena itu buanglah rasa takut dan putus asa.”

Kemudian Sayyidina Hasan berkata kepada Abu Dzar: “Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu. Buang sajalah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah perasaan sedih mengingat kesukaran dimasa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar ridha kepadamu.”

Kemudian kini berkatalah Sayyidina Husein: “Hai paman, sesungguhnya Allah Swt berkuasa mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan kekuasaan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah Swt dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mempercepat datangnya rizki dan kebatilan tidak akan menunda datangnya ajal!”

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: “Allah tidak akan membuat senang orang yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu. Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang mencegah orang supaya tidak mengatakan seperti yang kau katakan, hanyalah orang-orang yang merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh karena itu banyak orang “menghadiahkan” agamanya masing-masing kepada mereka, dan sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan duniawi kepada orang-orang itu. Dengan berbuat seperti itu, sebenarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukankah itu suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!”

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: “Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasulullah Saw. Suka-dukaku di Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudara-saudaraku di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang ke satu daerah, di mana aku tidak akan mempunyai penolong dan pelindung selain Allah Swt Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah Swt dan bersama-Nya aku tidak takut menghadapi kesulitan.”

Tutur Dzakwan lebih lanjut. Setelah semua orang yang mengantarkan pulang, Imam Ali segera datang menghadap Khalifah Utsman bin Affan. Kepada Imam Ali, Khalifah bertanya dengan hati gusar: “Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku –yakni Marwan– dan meremehkan perintahku?”

“Tentang petugasmu,” jawab Imam Ali dengan tenang “ia mencoba menghalang-halangi niatku. Oleh karena itu ia kubalas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya.”

“Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu Dzar?” ujar Khalifah dengan marah.

“Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang bersifat kedurhakaan harus kuturut?” tanggap Imam Ali terhadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

“Kendalikan dirimu terhadap Marwan!” ujar Khalifah memperingatkan Imam Ali.

“Mengapa?” tanya Imam Ali.

“Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang dikendarainya” jawab Khalifah.

“Mengenai untanya yang kucambuk,” Imam Ali menjelaskan sebagai tanggapan atas keterangan Khalifah Utsman, “bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampai memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!”

“Mengapa dia tidak boleh memakimu?” tanya Khalifah Utsman dengan mencemooh. “Apakah engkau lebih baik dari dia?!”

“Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!” sahut Imam Ali dengan tandas. Habis mengucapkan kata-kata itu Imam Ali cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman memanggil tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia menyatakan keluhannya terhadap sikap Imam Ali. Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan, para pemuka yang beliau ajak berbicara menasehatkan: “Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik.”

“Aku memang menghendaki itu,” jawab Khalifah Utsman. Sesudah ini beberapa orang dari pemuka muslimin itu mengambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali dan Khalifah Utsman. Mereka menghubungi Imam Ali di rumahnya. Kepada Imam Ali mereka bertanya: “Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk meminta maaf?”

“Tidak,” jawab Imam Ali dengan cepat. “Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau datang kepadanya.”

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman. Imam Ali datang bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt, Imam Ali berkata: “Yang kauketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang keputusanmu. Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalang-halangi Marwan, sama seperti dia menghalang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluarlah marahku, yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya.”

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali tersebut, Khalifah Utsman berkata dengan nada lemah lembut,”Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah kuikhlaskan. Dan apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaafkan perbuatanmu. Adapun mengenai apa yang tadi engkau sampai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguh-sungguh dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu!” Imam Ali segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman dan dilekatkan pada dadanya.

Di Pembuangan

Bagaimana keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembuangannya? Ia mati kelaparan bersama isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun bisa turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraannya di tempat pembuangan, dituturkan sebagai berikut:

Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri hidup sangat sengsara. Berhari-hari sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia mengajak isterinya pergi kesebuah bukit pasir untuk mencari tetumbuhan. Keberangkatan mereka berdua diiringi tiupan angin kencang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak menemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik. Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak menangis,” jawab isterinya yang setia itu, “kalau menyaksikan engkau mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus pemakamanmu!”

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia berkata: “Cobalah lihat ke jalan di gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin yang lewat!”

“Bagaimana mungkin?” jawab isterinya. “Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang sudah lenyap!”

“Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat,” kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasulullah Saw, “Jika engkau melihat ada orang lewat, berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak melihat seorang pun, tutup sajalah mukaku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasulullah. Ia sudah hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!”

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat kesana-kemari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang kafilah lewat, tampak benda-benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari kejauhan rombongan kafilah itu melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya, kemudian bertanya: “Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?”

“Apakah kalian orang muslimin?” isteri Abu Dzar balik bertanya. “Bisakah kalian menolong kami dengan kain kafan?”

“Siapa dia?” mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

“Abu Dzar Al-Ghifari!” jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya diantara sesama teman. Pada mulanya mereka tidak percaya, bahwa seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. “Sahabat Rasulullah?” tanya mereka untuk memperoleh kepastian.

“Ya, benar!” sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: “Ya Allah…! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada kita!”

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar. Orangtua yang sudah dalam keadaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata,”Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain dengan bajuku sendiri atau baju isteriku…..Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari kalian yang memberi kain kafan kepadaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai.”

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: “Hai paman, akulah yang akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerih-payahku. Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk kupergunakan sebagai pakaian ihram…”

“Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!” Sahut Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tenang berserah diri kehadirat Allah Swt Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda taufan.

Selesai dimakamkan, orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: “Ya Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasulullah Saw, hamba-Mu yang selalu bersembah sujud kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyrikin, tidak pernah merusak atau mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan di hinakan sekarang ia mati dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang membuangnya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasulullah!”

Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucapkan “Aamiin” dengan khusyu’.

Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat, semasa hidupnya ia pernah berkata: “Kebenaran tidak meninggalkan pembela bagiku…”

Daftar ke KPU, Jokowi-Ahok Tumpangi Kopaja

Joko Widodo atau Jokowi (kanan) dan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) menumpangi angkutan umum saat menuju kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah, Jalan Budi Kemuliaan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (19/3/2012). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Gerindra bersama 24 partai koalisi non sheet, mengusung Jokowi dan Ahok untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 sebagai calon Gubernur dan calon Wakil Guber

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim PDI-P dan Gerindra bersama 24 partai koalisi telah mulai mengarak pasangan calon gubernur dan wakil gubernur menuju tempat pendaftaran di Kantor KPU DKI Jakarta.

Kedua pasangan calon, Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memilih menumpang kendaraan umum pilihan kebanyakan warga Jakarta menuju tempat pendaftaran.

Saat keluar dari Kantor DPD PDI-P DKI Jakarta, Senin (19/3/2012) sekitar pukul 16.30 WIB, Jokowi dan Ahok memilih tidak menggunakan kendaraan yang digunakan keduanya saat datang.

Keduanya tiba-tiba memilih menaiki sebuah Kopaja yang telah dipenuhi kader PDI-P.

Pilihan itu langsung mendapat sambutan meriah para pendukung yang hadir di sekitar lokasi. Mereka terlihat lebih bersemangat berkat kehadiran Jokowi dan Ahok di antara mereka.

Saat Kopaja 612 jurusan Kampung Melayu-Ragunan bernomor polisi B 7216 EL itu beranjak, beberapa pengurus teras DPP PDI-P lainnya ikut memasuki Kopaja 612 lain yang berada di belakangnya.

Mereka antara lain, Boy Sadikin dan Ribka Tjiptaning. Menurut rencana, arak-arakan itu akan melintasi Pasar Rumput menuju Kantor KPU DKI Jakarta di Jakarta Pusat.

8 Fakta Diabetes pada Pria

Kompas.com – Survei yang dirilis American Diabetes Association (ADA) menyatakan, hanya 30 persen pria penyandang diabetes yang memiliki informasi terkait diabetes. Dan hanya 20 persen yang sudah menerapkan pola makan yang sesuai dengan kondisi mereka. Semakin kaya pengetahuan, sangat penting bagi diabetesi dan keluarganya dalam membantu mengendalikan penyakitnya.

Inilah fakta yang harus diketahui pria diabetesi untuk memotivasi perubahan perilaku menjadi lebih sehat.

1. Kurang jantan

Penurunan hormon testosteron banyak dialami pria dengan diabetes. Diabetes juga merusak pembuluh darah dan saraf yang mengontrol ereksi, sehingga mudah terjadi disfungsi ereksi. Pria diabetesi beresiko mengalami disfungsi ereksi 10-15 tahun lebih cepat daripada pria tanpa diabetes.

2. Pikiran kacau

Pria dengan diabetes beresiko tinggi mengalami depresi ketimbang yang tidak diabetes.

3. Harapan hidup berkurang

Kematian karena penyakit jantung diabetesi sekitar 2-4 kali lebih tinggi daripada yang tanpa diabetes. Harapan hidup pria dengan diabetes lebih pendek daripada perempuan diabetesi.

4. Ancaman kebutaan

Diabetes akan merusak pembuluh yang menjadi saluran gizi bagi retina. Akibatnya, potensi kebutaan karena diabetes retinopati akan lebih besar. Di kalangan orang yang terkena diabetes sebelum usia 30 tahun, pada pria, gangguan retinopati datang lebih cepat daripada perempuan.

5. Amputasi

Kerusakan vaskular juga sering memengaruhi kaki, sehingga lebih dari 60 persen kasus amputasi kaki yang bukan karena trauma disebabkan diabetes. Amputasi terkait diabetes pada pria 1,5 – 2,7 kali lebih tinggi tinggi daripada perempuan.

6. Nyeri

Pada pria diabetesi, gejala berupa nyeri di paha, betis, bokong selama olahraga, kram, perubahan suhu tubuh, sariawan berkepanjangan, bengkak, lebih sering dialami.

7. Demensia

Pria diabetesi lebih beresiko mengalami alzheimer dan bentuk lain dari demensia.

8. Kegemukan

Tak kurang dari 90 persen orang dengan diabetes mengalami kelebihan berat badan.

 

 

Sumber :

Tabloid Gaya Hidup Sehat

ALI MOCHTAR NGABALIN, Bintang Senayan Yang Unik

Nama : Drs. H. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si
Lahir          : Fakfak, 25 Desember 1969
Agama : Islam
Istri     : Henny Muis, SE
Anak :

1. Fuad Ali Mochtar
2. Faroek Ali Mochtar
3. Fathe Ali Mochtar
4. Farhaad Ali Mochtar
5. Fauzan Ali Mochtar

Pendidikan :

-Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Jurusan Ilmu Komunikasi
-Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin, Fak. Dakwah
-Muallimin Muhammadiyah, Makassar

Pekerjaan :

-Mubaligh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Makassar
-Pimpinan Pondok Pesantren Darul Fallah, di Palu
-Direktur Eksekutif Indonesian Network For Crisis (InCR)
-Direktur Eksekutif Adam Malik Center (AMC)
-Dosen Luar Biasa Pasca Sarjana Institut Agama Islam Al Aqidah, Jakarta
-Direktur Jurnal Sinema (Studi Informasi dan Media), Jakarta
-Anggota DPR RI 2004-2009

Pengalaman Organisasi:

-Ketua DPP Partai Bulan Bintang (PBB), 2005-2010
-Ketua DPP Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia
-Ketua DPP Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia, 2003-2004
-Sekretaris Dewan pakar Komite Independen Pengawas Kinerja dan pemilihan Kepala Daerah Indonesia
-Anggota Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, 1997-2004

Karya Tulis :

Peranan Opinion Leader Dalam Penyelesaian Konflik di Maluku (Kajian Ilmu Komunikasi)

Alamat : Wisma Anggota DPR RI, Blok E-1 No. 357 Kalibata Jakarta 12750

Bintang Senayan yang Unik

Anggota DPR yang satu ini sangat mudah dikenali. Selain karena nada bicaranya yang lantang dan tegas, serta isi pernyataan politik yang vokal, penampilannya juga unik. Ali Mochtar Ngabalin, wajahnya dihiasi janggut dan kumis dan selalu mengenakan busana stelan jas necis dipadu lengkap dengan lilitan surban.

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (F-BPD), mewakili Partai Bulan Bintang (PBB, yang juga seorang mubaligh, pimpinan pondok pesantren, dosen luar biasa sebuah institut agama Islam, dan Ketua DPP Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), ini di lingkungan politisi Senayan, sudah sangat dikenal.

Dengan penampilan unik dan nada bicara lantang dan tegas, serta isi pernyataan politik yang vokal, jadilah Ali Mochtar menjadi salah satu bintang politisi Senayan yang sering menjadi sorotan media massa. Pernyataan politik dan foto-foto Ali kerap kali menghiasi halaman media cetak dan ruang berita televisi.

Kepeloporan Ali sebagai bintang politisi Senayan memperoleh momentum pada pertengahan September 2005, tatkala berinisiatif mengajukan penggunaaan hak interpelasi atau hak meminta penjelasan resmi kepada pemerintah, yang memang dimiliki setiap anggota Dewan. Lulusan Pasca Sarjana Universitas Indonesia (UI) Depok, Jurusan Ilmu Komunikasi, ketika itu mempermasalahkan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memimpin sidang kabinet jarak jauh antara Amerika Serikat-Jakarta melalui telekonferensi.

Ali Mochtar berpendapat, pelaksanaan telekonferensi merupakan sebuah langkah gegabah sebab bisa membuka rahasia negara. Sidang kabinet lazimnya dilakukan secara tertutup sebab menyangkut langkah-langkah strategis pemerintah dalam mengkaji kebijakan negara. “Dengan telekonferensi, Presiden bisa membuka rahasia negara,” tutur ayah dari lima orang anak, buah pernikahannya dengan Henny Muis.

“Bagi negara lain, telekonferensi Presiden ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan negaranya. Berbagai informasi yang disadap bisa dimanfaatkan untuk mengambil langkah-langkah antisipatif. Bagi pengusaha, informasi yang diperoleh dari telekonferensi dapat dimanfaatkan untuk meraih keuntungan atau merusak pasar. Ini jelas tidak baik,” jelas Ali Mochtar, yang menjabat direktur eksekutif di sejumlah lembaga nirlaba. Ia berpendapat telekonferensi membutuhkan dana yang tidak sedikit sehingga sangat tidak signifikan dalam situasi negara yang sedang krisis.

Setelah menjadi inisiator pengajuan hak interpelasi, Ali bersama beberapa anggota DPR lain segera menyiapkan proposal dan mengumpulkan tanda tangan dukungan, hingga terkumpullah sebanyak 20 tanda tangan. Mereka sudah siap-siap untuk bertanya langsung kepada Presiden perihal telekonferensi yang memang baru kali itu terjadi dalam sidang kabinet.

Namun sesudah gigih berjuang termasuk menyiapkan konsep interpelasi, dalam perjalanannya dukungan terhadap Ali Mochtar sebagai pioner penggunaan hak-hak Dewan perlahan-lahan menyusut. Harian Rakyat Merdeka (29/9) menuliskan, para wakil rakyat seolah sudah ‘masuk angin’ sebab satu demi satu mereka menarik dukungannya. Dari 20 pengusul lima orang diantaranya secara resmi mencabut dukungan. Namun berkat keberanian Ali Mochtar berhembuslah angin segar di kalangan politisi dan masyarakat luas, bahwa setiap anggota Dewan sewatu-waktu dapat saja bertanya dan melakukan penyelidikan apabila ditengarai pemerintah salah dalam memerintah.

Kepeloporan anggota Dewan Ali Mochtar Ngabalin yang selalu berada di garis depan perjuangan, sesungguhnya sudah dimulainya tatkala ramai persoalan perebutan pulau Ambalat antara Pemerintah RI dan Malaysia. Majalah dengan pembaca utama kaum muslim Amanah, edisi No. 63 Juni 2005 menobatkan lelaki kelahiran Fakfak, 25 Desember 1969 ini sebagai lambang perlawanan terhadap sikap Malaysia yang hendak merebut salah satu pulau terluar milik Indonesia ini. Sebutan yang sangat pas sebab harian Kompas pun (7/4), memuat laporan berikut foto Ali persis tatkala sedang mengepalkan tangan dan meneriakkan pekik nasional “Merdeka”, di atas sebuah kapal milik TNI AL.

Ali Mochtar bersama rombongan hadir ke Ambalat untuk memberi semangat kepada pasukan TNI dan pekerja mercusuar di Karang Unarang. Selain ke Ambalat Ali pernah pula terjun langsung ke Sambuaga, Filipina, untuk melakukan negosiasi pembebasan tiga nelayan Indonesia yang disandera di Filipina Selatan, beberapa waktu lalu.

Anggota Yang Gelisah
Ali memilih Komisi I sebagai tempat berkiprah dan menyebutnya sebagai komisi ‘Air Mata’, karena tugas mereka melulu lebih banyak mengurusi masalah di daerah konflik, daerah perbatasan, TKI yang bermasalah, hingga warga negara kita yang bermasalah sebab terkena kasus politik di luar negeri.

Sebagai politisi muda yang mampu berpikir jernih Ali Mochtar mengaku banyak hal yang mesti di benahi di tubuh parlemen. Bukan saja pada soal kinerja tetapi juga perundang-undangan yang mengatur anggota DPR RI, yang di beberapa hal perlu direvisi dan dievaluasi. Misalnya, menyangkut bagaimana hubungan kerja antara lembaga parlemen dengan pemerintah, anggota parlemen dengan partai piolitik, dan lain-lain. Menurutnya, “Sistem distriknya perlu diatur ulang.”

Ali Mochtar lalu bercerita soal sebuah kasus yang pernah terjadi dan begitu membekas di ingatannya. Yakni, ketika DPR berencana mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Rapat sudah diagendakan akan berlangsung hari Sabtu (24/9).

Namun sehari sebelumnya, Jumat, muncullah keputusan pemerintah perihal persetujuan kenaikan tunjangan setiap anggota DPR sebesar Rp 10 juta per bulan. “Sehingga pada rapat tanggal 24 itu, semua anggota mulutnya terkunci. Isu kenaikan BBM tidak disinggung-singgung lagi,” kenang Ali. Walau tambahan tunjangan Rp 10 juta baru akan cair bulan Januari 2006 nanti, “Tapi secara konsitusi berita itu sudah mempengaruhi,” ujar Ali. Mengalami kondisi seperti ini Ali mengaku bimbang. Kepada Berita Indonesia dengan lirih dia berujar, “Independensi kita sudah tidak ada lagi.”

Ali Mochtar juga menyoroti kebiasaan anggota Dewan yang seolah sudah membudaya, misalnya bila melakukan kunjungan ke daerah. Pemda biasanya akan sangat sibuk melakukan penyambutan seperti menyiapkan akomodasi, penginapan, makan, transportasi, hingga kadang merasa perlu menyediakan ‘amplop’. Ali Mochtar adalah politisi muda visioner yang berusaha menghilangkan kebiasaan buruk seperti itu.

Ali berprinsip setiap anggota Dewan sudah dibiayai oleh negara untuk menjalankan tugas-tugas pemantauan ke daerah-daerah. Karena itu anggota Dewan janganlah memberatkan daerah yang dikunjungi. Demikian juga kalau berkunjung ke luar negeri jangan pula merepotkan KBRI.

Ali sampai-sampai harus membuktikan sendiri kebenaran prinsipnya tatkala melakukan kunjungan kerja ke daerah asal pemilihannya, Sulawesi Selatan II. Ketika itu sebagai tamu Gubernur Ali sudah mendapatkan penyambutan hangat. Kendaraan ‘dinas’ pun disediakan untuk mengantarkan ke mana Ali mau pergi. Akan tetapi begitu mengetahui bahwa kendaraan yang akan mengantarkannya adalah kendaraan dinas kantor gubernur maka seketika itu pula Ali bergegas turun dan berganti menyetop taksi.

Kejadian sebagai contoh bagus tersebut serta-merta menyita perhatian banyak orang, seperti wartawan dan sejumlah karyawan pemda yang sedang berada di halaman kantor gubernuran. Lalu secara terbuka Ali meminta agar pemerintah provinsi maupun kabupaten tidak perlu repot-repot mengurus wakil rakyat yang berkunjung ke daerahnya. Apalagi menyiapkan ‘amplop’, fasilitas mobil dan akomodasi hotel.

Pernyataan khas Ali Mochtar model begini tak urung telah mengundang sikap pro-kontra di kalangan dalam anggota Dewan. Tapi itulah Ali Mochtar yang sedang gelisah. Ia bahkan mengaku sudah mulai mengalami kegelisahan selewat enam bulan pertama duduk di kursi parlemen. Semua kegelisahan berkaitan dengan ketimpangan-ketimpangan yang dilihat dan dialaminya sendiri sebagai anggota Dewan. Beberapa hal yang ia alami terbukti mengingkari nuraninya.

Ia pun lalu pernah menjadi bimbang hingga memunculkan pernyataan khasnya, “Jika di DPR ini tidak bisa lagi membuat saya independen dalam mendahulukan kepentingan rakyat, saya harus siap untuk tidak berkiprah lagi di sini.”

Dwifungsi Politisi dan Pengusaha
Setelah gelisah dan bimbang Ali lalu mengajak setiap anggota Dewan yang merangkap sebagai pengusaha untuk meninggalkan bisnisnya. “Anggota dewan yang juga pebisnis harus mau meninggalkan bisnisnya. Jadi, ketika mereka datang di parlemen tidak lagi mengurus bisnisnya,” tegasnya.

Menurut Ali, anggota parlemen harus independen dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. “Tidak mungkin mereka bisa bekerja dengan baik dan maksimal, jika kebijakan-kebijakan yang turut dibuatnya masih ada unsur kepentingan pribadi atau kelompoknya. Pejabat politik bertugas membuat kebijakan untuk kepentingan publik. Sementara pengusaha selalu mencari keuntungan,” urainya.

Dicontohkan Ali Mochtar, jika mereka masih memegang jabatan sebagai dirut atau komisaris di perusahaan swasta, bagaimana jika nanti mereka membahas undang-undang tentang perusahaan swasta? “Independensinya untuk kepentingan publik bisa dipertanyakan. Sebab mereka turut dalam pengambilan keputusan kolektif,” ujar Ali.

Ketua DPP Partai Bulan Bintang (PBB) ini menggagas sudah perlu dipikirkan tata kerja parlemen. Adalah menjadi tanggungjawab partai dalam merekrut kader terutama untuk calon legislatif. Mestinya setiap partai harus memiliki dua cara rekruitmen. Pertama, kader yang menjadi representasi untuk kepentingan politik di parlemen. Kedua, kader yang menjadi representasi untuk membesarkan partai.

Ali Mochtar Ngabalin yakin dengan dua cara perekrutan akan bisa menyaring calon legislatif yang sekaligus tidak terlibat dalam bisnis. Atau calon legislatif yang siap melepaskan jabatannya di sektor bisnis sehingga independensi parlemen terwujud.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.